Alhamdulillah pada 10 November lalu Antasari sudah dinyatakan bebas bersyarat. Beliau akhirnya bisa kembali menghirup udara luar dan bisa bertemu dengan keluarganya di rumah. Lebih dari itu, Antasari bisa lebih leluasa melakukan konsulidasi, konsultasi dan upaya menuntut keadilan.

Yang menarik dari bebasnya Antasari adalah simbol politik 10 November yang merupaka hari pahlawan. Antasari bebas seolah karena dirinya pahlawan. Padahal dirinya dipenjara karena tuduhan pembunuhan berencana terhadap Nasrudin. Terlepas ada orang yang tidak setuju dengan hal ini, ya itu urusan mereka. Saya pribadi setuju dan meyakini bahwa Antasari adalah pahlawan pemberantasan korupsi di Indonesia.

Antasari adalah satu-satunya pimpinan KPK yang berani membongkar semua kasus korupsi. Besan presiden, Aulia Pohan, waktu itu sudah masuk penjara. Saya pikir tidak berlebihan kalau kemudian pemerintah memberi gelar pahlawan pemberantasan korupsi jika kasus penegakan hukum dan membongkar dalang pembunuhan ini tidak bisa selesai karena menyangkut “si orang besar.” Tujuannya, minimal sejarah akan mencatat bahwa Antasari hanyalah korban penguasa yang membuat skenario pembunuhan untuk menghentikannya dalam pemberantasan korupsi. Bagi keluarga Nasrudin, minimal mereka semakin yakin bahwa yang membunuh bukan Antasari. Sementara “si orang besar” minimal merasakan sakit hati atau hidupnya tidak tenang sampai akhir hayatnya.

Dan sepanjang sejarah Indonesia, mungkin baru kali ini ada keluarga korban pembunuhan, yang kemudian berkolaborasi dengan orang yang dituduh adalah aktor pembunuhan. Bahkan pengacara keluarga Nasrudin pun malah ikut mendukung Antasari. Selengkapnya pernah saya bahas di: https://seword.com/politik/antasari-korban-kejam-dan-kejinya-rezim-sby/

Antasari: saya berani!

Meski saat awal keluar penjara Antasari menyebut sudah ikhlas dan tidak dendam, namun beliau tetap bertekad membongkar si orang besar yang merupakan dalang pembunuhan Nasrudin. Antasari dan Andi Syamsudin (adik Nasrudin) sepakat untuk bersama-sama menuntut keadilan, menuntut agar dalangnya segera ditangkap. Namun Antasari meminta waktu 3 bulan untuk menenangkan diri dulu, sebelum melakukan sesuatu untuk menuntaskan kasusnya.

Saya tidak sedikitupun ragu dengan keberanian seorang Antasari. Seseorang yang sudah dihukum 7 tahun 6 bulan, sedikit banyak pasti berhasil menghilangkan sifat-sifat takut. Namun meski begitu, Antasari tetap perlu dukungan dari pemerintahan Jokowi.

Membentuk TPF Pembunuhan Nasrudin

Pemerintahan Jokowi harus segera membentuk Tim Pencarian Fakta pembunuhan Nasrudin. Harus. Sebab ini bukanlah pembunuhan biasa. Nasrudin merupakan salah satu saksi kunci yang bisa membongkar korupsi Bulog dan BUMN di era pemerintahan SBY. Sementara Antasari adalah ketua KPK yang menjebloskan besan presiden ke penjara. Nasrudin mati dibunuh, Antasari dituduh membunuh Nasrudin. Keduanya sama-sama mendapat perlakuan keji.

Keluarga Nasrudin sampai sekarang masih belum tenang, sebab pelaku pembunuhan yang sesungguhnya belum ditangkap. Sementara keluarga Antasari sudah menerima hukuman yang sangat berat karena Antasari dipenjara selama 7 tahun 6 bulan. Dua keluarga ini mendapatkan hukuman yang tidak seharusnya mereka terima.

Pemberian gelar pahlawan korupsi pada Antasari itu satu hal. Semacam bonus atau permintaan maaf negara ini karena membunuh dan menghukum orang yang tidak bersalah. Tapi di luar itu, keduanya harus didukung untuk menutaskan kasusnya. Salah satu caranya adalah membentuk TPF kasus Antasari dan Nasrudin.

Kasus Nasrudin ini adalah salah satu dari sekian banyak kasus HAM berat yang belum selesai. Nasib Nasrudin sama seperti Munir yang dibunuh dan orang yang dituduh sebagai pembunuh dan dalangnya sudah ditangkap. Namun otak atau dalang yang sebenarnya belum terungkap sampai sekarang.

Saya optimis kasus Nasrudin dan Antasari ini bisa selesai, sebab merupakan kasus paling baru dan bukti-buktinya juga lengkap. Kasus Nasrudin masih belum terlalu lama. Jika pembunuh Nasrudin tidak bisa terungkap, maka jangan harap kasus sebelumnya seperti Munir, Rawagede, Marsinah, Tanjung Priok, penculikan aktivis dan seterusnya.

Untuk itu saya pikir logis kalau setelah ini keluarga korban kasus HAM berat juga ikut mendukung penuntasan kasus Antasari dan Nasrudin. Semua harus bersatu atas dasar nasib yang sama dan melawan kelompok orang yang sama: pembunuh.

Mengapa ini penting?

Dari sedemikian banyak komentar-komentar orang, ada saja yang berpikir bahwa hal ini adalah masa lalu dan sebaiknya dimaafkan saja. Selesai. Namun saya memiliki pandangan berbeda. Saya rasa ini penting untuk diselesaikan karena bukan hanya menyangkut masa lalu, tapi masa depan bangsa ini.

Jika dalang pembunuh tidak ditangkap, setiap kita, setiap orang yang saat ini masih hidup, ada kemungkinan terbunuh karena ingin mengungkap kebenaran atau melakukan hal yang benar untuk negeri ini. Coba direnungkan, Munir aktivis HAM. Nasrudin saksi kasus korupsi. Hanya Antasari yang sampai saat ini masih hidup, tapi itupun beliau sudah dihukum selama 7 tahun 6 bulan untuk sesuatu yang tidak dia lakukan.

Pertanyaannya kemudian, sampai kapan? Apakah kejadian seperti ini mau diulangi? Jika jawabannya tidak, maka kita semua harus mendukung penuntasan kasus pembunuhan Nasrudin. Agar ke depan, orang-orang dari kalangan pembunuh itu tidak lagi melakukan hal yang sama, karena mereka tau bahwa negara ini sudah berani menangkap dan melawan mereka.

Begitulah kura-kura.

Sumber: https://seword.com